Categories
Uncategorized

Tempat Istirahat bagi supir bus pariwisata

Dikala ini, Indonesia lagi gencar mempromosikan obyek wisata dalam program Wonderful Indonesia. Ekspedisi wisata pula jadi bertambah dengan dicanangkannya 10 destinasi wisata Nasional tidak hanya Bali serta Yogyakarta. Belum lama rombongan turis, paling utama dalam negeri, pula terus menjadi banyak kita temui di lokasi- lokasi wisata.“ Menyikapi keadaan semacam ini, perihal yang butuh dipikirkan oleh penyelenggara obyek wisata merupakan sediakan ruang rehat untuk pengemudi bis pariwisata,” ucap Pengamat Transportasi dalam keterangannya.

Bagi Djoko, semacam di masa liburan pergantian tahun saat ini ini, banyak rombongan turis yang bepergian memakai layanan sewa bus pariwisata Sayangnya, sebagian besar posisi wisata tidak sediakan ruang istirahat buat awak bis wisata yang mencukupi. Boleh dibilang sangat sedikit posisi wisata yang sediakan tempat istirahat. Dampaknya, lanjut ia, pengemudi bis tidur dalam keadaan apa terdapatnya, sarana yang sedikit, tidak aman serta tidak sehat.

Tempat istirahat buat pengemudi serta kru bis di posisi wisata baik langsung ataupun tidak langsung sangat mempengaruhi buat keselamatan penumpang bis. Djoko merujuk pada UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu- Lintas Angkutan Jalur yang mengatakan waktu istirahat pengendara kendaraan bermotor.“ Pengemudi optimal mengemudi kendaraan bermotor 8 jam satu hari dengan 4 jam ekspedisi berturut- turut harus rehat minimun 30 menit,” ucap Djoko menegaskan pendapatnya.

Telah jadi rahasia universal, kerap kali kita dapat menemui pengemudi bis tidur di ruang bagasi bis dikala menunggu penumpangnya melancong. Mereka tidur ala kadarnya di ruang yang panas di bagian dasar bis itu. Keadaan ini, bagi Djoko kurang manusiawi.“ Apabila bis pariwisata yang dikendarainya kurang layak, ikut menaikkan keletihan pengemudi, sebab ia wajib lebih berjaga- jaga mengemudikannya,” ucap pengajar di Universitas Soegijapriatna ini.

Ia mengatakan, seyogyanya dikala warga liburan dengan bis wisata dapat merasa aman di ekspedisi. Kala mengarah ke posisi wisata mereka dapat istirahat di ekspedisi serta dikala datang di tujuan wisata, giliran pengemudi serta awak bis yang lain yang istirahat. Djoko menyoroti sebagian musibah yang mengaitkan bis wisata yang terjalin April 2017 di wilayah yang sering jadi tujuan wisata di Puncak, Bogor. Bagi ia, kala pengemudi dapat istirahat dengan aman, hingga konsentrasi serta kondisinya sepanjang bertugas dibalik kemudi dapat prima.

Salah satu posisi wisata yang dapat dijadikan contoh, bagi Djoko, merupakan rest zona ataupun tempat rehat wisata buat rombongan bis pariwisata di Malang. Di posisi parkir mengarah Kawasan Gunung Bromo yang dikelola Dinas Perhubungan Kab. Malang telah dilengkapi dengan sarana mencukupi.

Tidak hanya lahan parkir, lanjut Djoko, terdapat kantor pengelola, ruang rehat dan warung yang menjual santapan serta minuman. Ia berharap, banyak posisi wisata meniru apa yang dicoba Dinas Perhubungan Kab. Malang.“ Satu lagi, pengelola hotel ataupun penginapan pula harus sediakan tempat rehat yang aman buat pengemudi,” kata ia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *